Jumat, 03 Maret 2017

"Sarah" #4

Coba lihat di seberang sana
Tampak riuh wajah merah tembaga
Tertawa terbahak bahak
Rasa rasanya sisa aku makhluk yang
tidak beruntung, tidak apa-apa
ya bukan kah hidup adalah sebuah pertaruhan?
Dan....
Aku ingat hari ini ulang tahun mu
Tidak pernah sampai kadoku di atas meja riasmu
Tidak pernah sampai senyum mu di batas penglihatan ku
Tidak apa-apa...
Kau sudah lengkap , apa yang dimimpikan teman sebayamu sudah kau raih pula
Apa yang perlu ku beri?
Tidak ada, ketahuilah jauh bahagiamu ada di atas harapku.

"Sarah" #3

Sudahkah kau berbahagia?
Aku ? Belum.
Seri seri wajahmu
Kau makin elok
Bahagiamu mempercantikmu
Jelas dari senyummu
Sar..
Kau tahu ketika seseorang mencintaimu
Tanpa sedikitpun rasa ingin memilikimu
Tanpa ego sejentik ujung kuku pun
Karena ia sadar kau tak akan berbahagia disisinya
Ironis bukan ? Tidak.
Ia hanya perlu kau tersenyum
Senyum mu lah lentera hidupnya.
Tersenyumlah.
Terus lah kau kirim potret wajahmu itu
Penuh sumringah..
Walau ia tau senyum itu bukan untuk ia
Kau tau ? Sekarang ia berbahagia
Kau tau kenapa ?
Kau sudah dapatkan impian yang diinginkan perempuan seusiamu , teman hidup yang jelas tau cara membahagiakanmu
Kau sudah memiliki buah hati percis sama seperti mu
Jelas kulihat mata, hidung, bibir itu darimu
Kelak jiwanya seperti mu ,sederhana ,tulus
Semoga tuhan selalu memberkatimu
Anak anak mu , keluargamu
Cukup sudah penderitaan mu
Rekahkanlah senyum mu kembali
Agar orang asing ini senantiasa dalam penerangan.

"Rasa"

Rasa
Aku tau itu
Tapi lupa aku letaknya
Ia bagai buku
Dari sekian banyaknya buku
Di perpustakaan
Ia ditemukan dengan
Ke-tidak sengaja-an
Jika Ragu itu lah rak nya
Maka segalanya sudah pasti
Ia memang tidak pernah ada
....

"tanah"

Tanah sudah tak lagi menjadi tanah sudah banyak sampah plastik menumpang di tubuhnya
Daun daun sudah kuning lelah menopang tubuhnya sendiri, padahal jelas jijik jika harus sama sama berbaring di samping plastik plastik yang matinya tidak berguna sama sekali, hanya merusak saja bisanya , merusak pandangan juga merusak aroma tanah yang selalu di ceritakan ibu mereka bahwa tanah lah tempat terakhir terbaik untuk bangsanya
Bukan kah itu hal biasa?
Sudah menjadi alasan yang sederhana malah
Yaa sesederhana koruptor meminta maaf telah buncit perutnya oleh uang rakyat
Yaa semuanya perkara waktu saja
Mau di jadikannya apa kita nanti , seakan menebak-nebak padahal jelas sudah tau esok kita mati.

"Sarah" #2

Ingat aku waktu itu
Pertama kali kamu bertingkah
Padahal kita sama sama anak baru disekolah itu
Bahkan masih ujian tes masuk
Tingkah mu seakan akan sudah jauh menjadi bagian dari sekolah itu
Jam setengah delapan ujian itu sudah dimulai , kamu baru datang jam setengah sembilan
Masuk terburu buru mencari bangku kosong
Kamu duduk tepat di depanku
Baru kamu sandarkan badan mu di bangku itu
Lalu lantang berteriak "ada yang punya pensil lebih gak?" sontak anak perempuan di sebelahmu , memberimu pensil yang jelas tumpul pada ujungnya, lalu kamu bilang "makasih, aku pinjam ya!" Jelas ku lihat senyum mu, dari setengah wajah mu yang menengok ke arah kanan, manis sekali waktu itu, belum satu menit , aku ingat sekali waktu itu ,lalu kamu berteriak lagi "ada yang bawa rautan ?" Sontak seluruh isi kelas melihat ke arah mu , lalu anak yang duduk satu meja dengan mu memberikan tautannya kepadamu , aku tidak mendengar apa apa setelah itu , yang jelas aku suka memandang mu diam diam dibelakangmu, lalu bel tanda akhir ujian berbunyi, kita semua keluar dari kelas itu , berhambur semuanya kearah tiap orang orang tua kita yang sedang menunggu cemas di luar kelas, lalu aku pulang bersama bapak yang waktu itu menemani aku untuk ujian , sepanjang jalan menuju rumah hanya bayang bayang wajah mu dari samping waktu itu yang terus ku putar di dalam kepalaku.

Sempurna yang seperti apa?

Dulu aku jatuh cinta tanpa kira kira
Semua nya tampak presisi dan simetris
Setiap Lawan jenis di hadapan
Mata selalu berujar sempurna!
Ku ingat ingat lagi
Mana yang sempurna?

Arti "pluralisme" bagi saya

‌Ini bukan soal budaya mana yang kita tiru , dan budaya mana yang kita anut , atau perayaan hari besar suatu agama apa yang ikut kita rasakan kegembiraan nya , lalu dengan cepat kita yang merasa itu tindakan yang salah dan kita tau apa arti dari pluralisme , pluralisme bukan mengajak kita untuk menganggap semua agama adalah benar , karena kebenaran agama adalah milik masing masing keyakinan pemeluknya , seperti saya tidak meyakini  kepercayaan saudara saya , karena saya yakin agama saya lah yang benar , dan ini bukan sesuatu yang bisa di perdebatkan , karena perdebatan selalu melibatkan emosi , karena tiap tiap pemeluk agama menganggap agama yang mereka peluk adalah yang benar,  cukup kita dengan agama kita sendiri , mereka dengan agama mereka sendiri , hidup lah berdampingan tanpa perasaan paling benar di hadapan orang orang sekeliling kita , agar tidak ada hati yang merasa tersinggung , cukup kita merasa paling benar dengan keyakinan kita di dalam hati kuat kan di dalam hati , mari kita hidup penuh toleransi ,  toleransi yang saling mengerti , toleransi tanpa ego mayoritas - minoritas , Stop bersikap sinis!